Pages

Selasa, 20 November 2012

Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka keduanya


bismillah

dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik – baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua – duanya sampai berumur anjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali – kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : ‘ Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” [QS. Al – Israa’ : 23 – 24]

Tentang orang tua, ibu dan bapak. Keduanya adalah harta berharga bagi anaknya, yang tak ada pengganti lain. Dan Allah Ta’ala menjadikan berbuat baik kepada mereka berdua sebagai salah satu sebab masuk surga.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Rasulullah bersabda : “tersungkur hiidungnya,  tersungkur hiidungnya, tersungkur hiidungnya (hina dan rugi sekali).”
Beliau ditanya, “Siapa wahai Rasulullah?” beliau bersabda
“orang yang mendapatkan kedua orang tuanya ketika mereka berusia lanjut, baik salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga." [HR. Muslim]

Dari buku : Ibumu, Ibumu, Ibumu… Kamu dan Hartamu Kepunyaan Ayahhmu… oleh Sulaiman bin Shaqir ash – Shaqir dan Dr. Sulaiman bin Muhammad ash – Shagir.
 ~~~
Wahai diriku, lihatlah keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Siapa yang memerintahkan?? Allah. Tertulis dengan jelas dalam QS. Al – Isra. Berkata ‘ah’ saja tak boleh, apalagi mengucapkan kata – kata  atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. Sebagai anak pantaskah berbuat keburukan kepada kedua orang tua yang telah merawatnya sewaktu kecil. Yang telah memberikan kasih sayang, hingga mengeluarkan harta hanya untuk anaknya. Ya, mereka mengorbankan segalanya. Diriku bagaimana kau perlakukan harta yang tak terganti dari Allah ini?

Menganggukkan kepala tanda membenarkan perkataan seorang ustadz yang mengatakan bahwa puncak kebaikan kepada manusia ditujukan kepada orang tua. Ya, aku setuju. Aku paham. Tapi,, bagaimana kau laksanakan wahai diriku? Sudahkah kau berikan yang terbaik?

Pernah ku baca, terkadang perilaku seseorang di dalam rumah dan di luar rumah sangatlah berbeda. Bak 2 kepribadian dalam 1 individu. Bermuka manis, berkata lembut kepada teman – teman dan sahabatnya. Berusaha sekuat tenaga menjaga hati teman dan sahabatnya. Tetapi sungguh bertolak belakang ketika ia kembali ke rumahnya. Berkata ‘ah’ begitu saja mudah terlontar pada kedua orang tuanya. Tak menjaga hati keduanya. sungguh berbeda. [yaa Allah, sungguh aku berlindung dari sikap demikian]. Berbuat baik kepada orang lain mungkin harus dilakukannya sebagai bentuk pengharapan agar bisa diterima lingkungan. sedangkan ia tidak berlaku baik kepada kedua orang tuanya, karena ia merasa sudah pasti diterima dalam keluarganya, hingga jadilah ia berbuat semena – mena. [ yaa Allah,  sungguh sungguh sungguh aku memohon perlindungan padaMU dari sikap demikian]

Mungkin kepribadian seseorang akan terlihat keasliannya ketika ia berada di rumahnya. Pikirku demikian.

Yaa Allah, mereka berada atas kuasaMu. Biarlah segala hati, pikiran, perbuatan, dan  semuanya, segala tentang mereka, terajut mencapai angka ∞ .

Tidak ada komentar: