Pages

Kamis, 01 November 2012

Bersamanya di Kala Subuh

Udara subuh kala itu begitu menyenangkan. Sejuk. Sore hari sebelumnya tetes air hujan membasuh kota kepanjen. Menyisakan udara yang dingin dan sejuk esok subuhnya. Adzan subuh, ya adzan subuh sudah berkumandang kira – kira 30 menit yang lalu. Berjalan menuju kamar seseorang yang begitu kucintai. Bersamanya berbincang – bincang.

~~~

Kuawali perbincangan mengenai nenekku yang akhir – akhir ini mengeluhkan tentang sakitnya. Berganti sakit. Mengeluhkan sakit ini pada satu kesempatan, berganti dengan sakit itu di lain kesempatan. Ingin sembuh itu pikirku. Hingga berganti bermacam – macam obat juga yang harus nenekku lakukan. “ibuk sekarang sering sakit – sakitan ya ma”,kataku pada beliau. Ibuuk ? ya, nenekku lebih suka dipanggil dengan sebutan ibu, jadilah aku memanggil ibuku dengan mama.

yaa.. memang begitu sudah usia lanjut.” “sudah bawaannya seperti itu”. Aku terdiam. 

Tak berhenti di situ. Bercerita.
 
dulu pas masih umur mama 40 pas masih di bondowoso lihat orang – orang tua, kesulitan bangun dari duduknya. Katanya dengkul (lutut – red) sakit. Sampai – sampai harus dibantu orang lain untuk berdiri.” Sama – sama diam.

Jeda beberapa saat itu membuatku berpikir tentang kondisi orang tekasihku di depanku. Membuatku tidak banyak berbicara.

Masih bercerita. “ tanda – tandanya memang sudah kelihatan dari awal ya. dimulai dari menopause.  bahkan Rosulullah saja meninggal di saat usia 63 tahun. Mungkin agar umatNYA tidak takut, karena Rosululloh saja hanya berumur segitu. Orang yang diberikan kelebihan umur berarti ia diberikan kesempatan oleh Allah. Ya, memang harus siap.” Berhenti.

Aku?? Kelu. Tak dapat berkata – kata. Berusaha tak menatap beliau. Aku tak kuasa. Entah mengapa? Mungkin karena yang mengatakan hal itu adaah orang yang begitu besar jasanya padaku, yang sungguh tak mungkin bisa kubalas satu per satu jasanya. Yang sebaliknya dapat jadi perbuatan burukku pada beliau jauh lebih banyak daripada kebaikan. Aku tertahan, diam. Salahnya aku, aku tak datat berkata – kata. Salah. Jangan sampai beliau melihatku. Ku palingkan wajah. 

Tak kuasa..

ayo sekarang goreng donat.” Seru ibuku. Ahh sontak aku kaget. “ayooo” seruku, sambil membututi sosok yang ku berikan pondasi kuat dalam hatiku atas dasar Engkau, wahai Allah. Kedua orang tua yang sudah pasti harus kuberikan pondasi yang benar – benar kuat dalam hatiku. 

~~~

Masih terpikirkan satu per satu kata - kata ibu. Mencernanya baik – baik, sebagai nasehat bagiku. Wahai diriku, selagi Allah masih berikan kesempatan padamu untuk menatap keduanya, berbincang bersama keduanya, menjalani hari bersama keduanya, manfaatkanlah sebaik mungkin. Jangan sampai kau buat jeda jarak antara dirimu dan keduanya. Yaa Robb, keduanya adalah anugerah yang begitu besar dariMU. Ku bersyukur atas keduanya.  Lembutkanlah aku di hadapan keduanya. Ku memohon kepadaMU, Allah..

Ampuni keduanya, sayangilah keduanya, lindungi keduanya, bahagiakanlah keduanya di dunia dan di akhirat. Yaa Allah, perkenankanlah keluarga kami, keturunan kami, serta keluarga dan keturunan kaum muslimin di seluruh dunia berkumpul di syurgaMU kelak, aamiin..



Kematian? Tak cukupkah ia sebagai pemberi peringatan bagimu, wahai diriku?

tulisan yang panjang...

Tidak ada komentar: